RSS

Jumat, 19 Oktober 2012

Cara menenangkan hati dan pikiran

Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang begitulah salah satu kata dalam ayat Alkitab Amsal. Memang benar banyak penyakit yang menyerang tubuh seseorang karena hati dan pikirannya tidak tenang, dan salah satu penyakit tersebut adalah penyakit yang disebut sebagai Psikosomatik, yaitu penyakit fisik yang diperburuk oleh faktor mental seperti stres dan kecemasan.

Dari artikel internet diketahui bahwa penyakit psikosomatik terjadi ketika emosi negatif telah mempengaruhi sistem otonom tubuh, hormon dan kekebalan terhadap beberapa penyakit. Sementara faktor lainnya seperti depresi, kemarahan, dan isolasi sosial berkontribusi terhadap penyakit jantung. Stres di sisi lain, mempengaruhi asma, gangguan pencernaan dan banyak penyakit fisik lainnya.

Dalam beberapa dekade terakhir banyak dokter yang mengakui bahwa memang benar ada kaitan antara aktor-faktor psikologis dengan penyakit fisik. Kenyataannya, diperkirakan sekitar 30% keluhan fisik yang ditangani dokter di ruang praktek terkait dengan masalah psikologis.

Mengontrol emosi saat menstruasi

Banyak wanita mengalami sindroma pra-menstruasi (PMS). Gejala kram di bagian perut, sakit kepala, emosi yang labil, serta keinginan tertentu sering terjadi menjelang siklus bulanan wanita.

PMS adalah periode puncak yang terjadi selama beberapa hari menjelang menstruasi. Pada masa inilah hormon progesteron meningkat dan memicu gangguan emosi. Mereka menjadi lebih cepat sedih, cemas, dan pemarah.

Namun, tingkat gangguan emosi sangat tergantung dengan faktor lingkungan atau kondisi yang sedang terjadi saat itu. Masa PMS jutru sebaiknya dimanfaatkan untuk mengevaluasi aspek-aspek kehidupan sehari-hari yang jarang diperhatikan. 

Peningkatan progesteron memungkinkan seorang wanita untuk memperhatikan hidupnya secara mendalam serta apa yang dia inginkan. Siklus bulanan memberikan wanita kesempatan untuk merenungkan dan bertukar pikiran tentang keinginan-keinginan terpendam.

Saat lapar, perut bisa bunyi



Suasana sedang hening-heningnya, ketika Anda menunggu pertanyaan selanjutnya dari direktur pelaksana perusahaan dimana Anda melamar pekerjaan, mendadak perut Anda mengeluarkan bunyi gemuruh yang kencang. Oh, tidaaak...! Mengapa rasa lapar ini tidak bisa ditahan, dan meledak begitu saja? Tak terbayangkan bagaimana raut wajah Anda saat itu, antara malu yang tak tertahankan, ingin mendapat pekerjaan tersebut, tetapi juga ingin segera kabur dari ruangan.


Perut yang berbunyi ketika kita sedang kelaparan, memang hal yang normal. Namun, menurut Shana Aborn, editor senior Ladies' Home Journal, sebenarnya bukan perut kita yang berbunyi, melainkan area yang terletak sedikit di bagian selatan. Selama proses mencerna, otot-otot pada usus besar maupun kecil berkontraksi, mendorong makanan dan cairan yang ada di sekitarnya. Ketika bercampur udara, hal itu menciptakan suara yang bergemuruh. Kadang-kadang, kita mengeluarkan udara ini dalam bentuk kentut atau sendawa.

Ketika makan atau minum, kita juga menelan udara secara alami. Namun kelebihan udara juga bisa masuk ke dalam sistem ketika Anda mengunyah permen karet, merokok, ngemut permen, atau minum dengan sedotan.